ENTOMOLOGI FORENSIK ADALAH PDF

They say,if you wanna change the world, go into politics. I say, be a microbiologist and an entrepreneur! Aplikasi utamanya adalah dalam penentuan waktu kematian dalam kasus-kasus kematian yang mencurigakan, baik dengan memperkirakan oviposisi serangga, atau dengan menganalisis komposisi spesies serangga pada mayat. Selain itu, data serangga dapat digunakan untuk membantu mengungkap penyebab kematian atau bahkan identitas korban Amendt et al. Selain penentuan waktu kematian yang lebih akurat, data molekuler serangga juga dapat dimanfaatkan untuk menganalisa materi genetik manusia yang ada di dalam tubuh serangga, terutama pada fase larva yang masih belum memiliki aktivitas nuklease. Pada makalah ini akan dibahas mengenai pemanfaatan metode molekuler dalam entomologi forensik terutama dalam penentuan spesies, analisis DNA manusia dalam larva serangga dan studi ekspresi gen.

Author:Yozshugar Dolkis
Country:Pakistan
Language:English (Spanish)
Genre:Software
Published (Last):23 October 2019
Pages:245
PDF File Size:3.81 Mb
ePub File Size:7.74 Mb
ISBN:147-9-72052-271-7
Downloads:89737
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:JoJorn



They say,if you wanna change the world, go into politics. I say, be a microbiologist and an entrepreneur! Aplikasi utamanya adalah dalam penentuan waktu kematian dalam kasus-kasus kematian yang mencurigakan, baik dengan memperkirakan oviposisi serangga, atau dengan menganalisis komposisi spesies serangga pada mayat.

Selain itu, data serangga dapat digunakan untuk membantu mengungkap penyebab kematian atau bahkan identitas korban Amendt et al. Selain penentuan waktu kematian yang lebih akurat, data molekuler serangga juga dapat dimanfaatkan untuk menganalisa materi genetik manusia yang ada di dalam tubuh serangga, terutama pada fase larva yang masih belum memiliki aktivitas nuklease.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai pemanfaatan metode molekuler dalam entomologi forensik terutama dalam penentuan spesies, analisis DNA manusia dalam larva serangga dan studi ekspresi gen.

Saat ini telah banyak buku entomologi berisi kunci determiasi untuk identifikasi suatu spesies serangga. Seiring dengan perubahan lingkungan, beberapa serangga mengalami beberapa adaptasi morfologi sehingga terdapat beberapa spesies serangga yang sulit dibedakan secara morfologi. Fase serangga yang banyak ditemukan pada mayat adalah berupa larva dan pupa. Kedua bentuk tersebut meskipun memiliki keunikan morfologi antar satu spesies dengan spesies lain tetapi masih sulit dibedakan bagi pengamat pemula.

Di sisi lain keberadaan ahli serangga cukup terbatas. Hal tersebut menjadi hambatan bagi keakuratan penentuan kematian serangga. Dengan penemuan metode identifikasi spesies berbasis molekuler, kesulitan tersebut di atas diharapkan dapat diatasi. Berikut ini adalah ringkasan beberapa artikel penelitian mengenai pemanfaatan identifikasi serangga berbasis molekuler, terutama menggunakan teknologi DNA barcoding berbasis DNA mitokondria.

Pada penelitian ini dilakukan identifikasi molekuler pada kelompok serangga Scuttle flies Phoridae. Dikarenakan ukurannya yang sangat kecil dewasa mm , serangga ini mampu mencapai lokasi yang tidak mampu dijangkau oleh jenis blowflies Calliphoridae. Diketahui bahwa Blowflies adalah jenis serangga pertama yang mendatangi jenazah dan meletakkan telurnya pada kondisi TKP terbuka atau yang memiliki akses luas untuk didatangi. Sedangkan untuk TKP yang tertutup aksesnya sangat terbatas , jenis blowflies tidak mampu menjangkaunya, maka famili Scuttle flies Phoridae dengan ukuran tubuh yang sangat kecil, memiliki akses untuk mencapai lokasi tersebut.

Famili ini hidup sebagai scavenger, herbivora, dan predator, memiliki kemampuan menggali hingga ke dalam tanah bahkan menyusup kedalam peti mati jenazah sekalipun. Scuttle flies aktif pada tahap awal proses pembusukan dan tahap akhir proses dekomposisi suatu jenazah, terutama genus Megaselia.

Adapun spesies utama yang terlibat dalam entomologi forensik adalah Megaselia scalaris, Megaselia giraudii, Megaselia abdita, Megaselia rufipes, dan Conicera tibialis. Sedangkan Puliciphora borinquenensis merupakan kandidat spesies yang masih dipelajari dalam kaitannya dengan entomologi forensik. Dari identifikasi molecular tersebut, diperoleh hasil bahwa family Phoridae memiliki variasi interspesifik dan intraspesifik yang cukup beragam, analisis DNA juga menunjukkan adanya kesamaan haplotype antara varian satu dengan lainnya didalam satu spesies.

Dari identifikasi tersebut, nantinya juga dapat ditentukan apakah jenazah tersebut mengalami kematian wajar atau tidak berdasarkan siklus hidup masing-masing serangga yang teridentifikasi. Cytochrome b as a useful tool for the identification of blowflies of forensic interest Diptera, Calliphoridae Perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada bidang entomologi forensik telah banyak mengembangkan berbagai metode yang dapat memudahkan dan menghasilkan data yang tepat dan akurat.

Keakuratan dan ketepatan data ini sangat berpengaruh untuk dapat menentukan Post Mortem Interval PMI , Post Mortem Transfer, perlakuan kekerasan sebelum kematian dan ada tidaknya penggunan obat-obatan ataupun racun GilArriortua et al.

Entomologi forensic ini memanfaatkan serangga-serangga yang biasa mengkolonisasi tubuh mayat manusia salah satunya untuk dapat menentukan Post Mortem Interval PMI.

Salah satu familia serangga yang merupakan necrophagus yang pertama kali mengkolonisasi mayat manusia yaitu Calliphoridae GilArriortua et al.

Untuk dapat mengidentifikasi berbagai macam spesies serangga ini dapat dilakukan dengan cara konvensional melalui karakteristik morfologinya. Adanya kemiripan morfologi pada beberapa jenis serangga khususnya pada tahap perkembangan instar menjadi salah satu kesulitan dalam proses identifikasi GilArriortua et al. Perkembangan identifikasi secara molekuler ini dapat memberikan hasil identifikasi serangga yang lebih tepat pada setiap tahapan perkembangan serangga.

Penggunaan DNA mitokondria merupakan salah satu metode molecular dalam mengidentifikasi spesies serangga. Penggunaan DNA mitokondria digunakan karena banyak jumlah kopinya dan memiliki tingkat mutasi yang lebih tinggi dibandingkan DNA inti. Cytochrome b merupakan salah satu gen dari 37 gen yang terdapat dalam genom sirkular mitokondria yang bermanfaat dalam filogenetik Farias et al. Hal tersebut dikarenakan gen ini memperlihatkan variabilitas yang terbatas dalam satu spesies dan memiliki banyak variasi antar spesies.

Penggunaan cytochrome b dapat dikontribusikan dengan pengunaan cytochrome oxidase untuk menghasilkan data yang lebih komperhensif. Berdasarkan identifikasi molecular ini dapat dihasilkan dapat identifikasi yang lebih tepat untuk mendukung data hasil identifikasi konvensional serta pohon filogenetik.

Pohon filogenetik ini dapat menjadi sumber identifikasi jika terdapat spesies baru yang terdapat dalam suatu investigasi. Berdasarkan pohon filogenetik ini kita dapat melihat kedekatan evolusi antar spesies, sehingga jika terdapat spesies baru yang terdapat dalam suatu investigasi dapat diperkirakan dengan cara melihat kedekatan evolusinya.

Melalui data tersebut dapat diperkirakan kemiripan dalam siklus hidup serta tahapan perkembangannya untuk dapat memperkirakan Post Mortem Interval PMI dalam suatu investigasi, serta ada tidaknya Post Mortem Transfer, dan kondisi lain sebelum kematian terjadi. Secara tidak langsung, larva serangga nekrofagus dapat mempreservasi materi genetik dari jenazah, karena larva serangga belum memiliki enzim pemecah materi genetik nuklease.

Berikut akan diulas mengenai beberapa aplikasi metode analisis DNA manusia pada larva serangga dalam membantu memecahkan kasus entomologi forensik khususnya pada pendekatan kasus pemerkosaan dan kasus bagian tubuh yang terpisah berbasis analisis Short Tandem Repead STR.

Adanya trauma pada organ genital menjadi atraktan bagi blowflies untuk meletakkan telur. Telur blowfies akan berkembang menjadi larva dan memakan jaringan lunak pada vagina. DNA dari spermatozoa yang ditemukan pada korban, dapat digunakan sebagai sampel untuk penentukan pelaku dengan menggunakan metode molekuler. Mayat korban pembunuhan-pemerkosan akan mengalami dekomposisi dan sel-sel vagina akan mengeluarkan senyawa yang menghancurkan spermatozoa dan medegradasi DNA.

Divisi Cyclorrhapha Muscidae, Fanniidae, Calliphoridae, dan Sracphagidae merupakan fauna yang sering ditemukan pada mayat. Pada stage larva akan memakan jaringan vagina yang mengandung spermatozoa sehingga terjadi akumulasi DNA manusia pada perut larva, untuk itu ekstraksi DNA manusia dari larva mungkin dilakukan untuk dijadikan metode dalam pemecahan kasus pembunuhan-pemerkosaan jika tidak memungkinkan untuk mengekstraksi DNA dari spermatozoa langsung.

Y-STR spesifik ditemukan pada laki-laki dan varibel pengulangan berbeda setiap individu sehingga digunakan sebagai marker deteksi. Penelitian dilakukan dengan mensimulasi kejadian dengan sampel liver yang diberikan cairan semen pada jumlah yang bervariasi, kemudian diletakkan telur dari Phaenicia sericata meigen dan disimpan pada suhu 24oC.

Setiap sampel diambil instar kedua dan dilakukan ekstraksi DNA manusia dari seluruh tubuh larva dan bagian perut larva yang diambil secara diseksi. Selain larva juga diambil sampel swab liver, postfeeding, early pupa, dan late pupa sebagai pembanding. Hasil menunjukkan bahwa PSA dapat dideteksi dari swab liver, larva total, dan bagian perut larva pada 48 jam inkubasi. Nilai PSA meningkat sebanding dengan jumlah cairan semen yang diberikan.

Data penelitian ini menunjukkan bahwa ekstraksi DNA manusia dari tubuh larva dapat digunakan sebagai metode baru untuk memecahkan kasus pembunuhan-pemerkosaan.

Namun data yang ditemukan menggunakan metode ini harus dihubungkan dengan kejadian spesifik kasus. Diketahui dari penelitian sebelumnya bahwa penentuan usia spesimen serangga dari telur yang ditemukan pada jenazah, menjadi cara yang akurat untuk menganalisa forensik suatu kasus yang terjadi sebelum kematian. Larva biasa digunakan untuk memperkirakan periode aktivitas serangga berdasarkan spesimen serangga tertua yang ditemukan pada jenazah, sehingga dapat dikaitkan dengan waktu kematian dari jenazah tersebut.

Dalam kasus tertentu, ketika larva ditemukan namun tidak ada jenazah yang ditemukan atau bagian tubuh jenazah tidak kumplit, maka keterkaitan antara kemunculan larva dengan jenazah menjadi sangat penting. Oleh sebab itu, analisis DNA baik pada serangga maupun jenazah menjadi dibutuhkan. Untuk identifikasi manusia, analisis DNA mitokondria sering digunakan karena high copy number salinan tinggi di dalam sel sehingga dapat digunakan ketika jaringan yang ditemukan dari jenazah dalam keadaan rusak tidak utuh.

Pada larva blow fly yang terdapat pada jenazah, potongan makanan dan cairan yang berasal dari jenazah disimpan sementara sebelum dicerna. Proses utama pencernaan tidak terjadi pada larva karena enzim proteolitik tidak disekresikan pada tahapan serangga ini. Hubungan yang erat antara dua orang atau tubuh manusia biasanya bergantung pada jenis yang sama disuatu lokus seperti dipelajari pada mikrosatelit, termasuk metode STR short tandem repeat.

Gambaran kasus pada penelitian ini adalah ditemukannya jenazah yang terpisah antara bagian tubuh dan kepala dengan jarak setiap bagian tubuh adalah m serta tubuh telah membusuk dan sulit diidentifikasi. Untuk meyakinkan kepemilikan tubuh tersebut berasal dari 1 individu yang sama, maka dilakukanlah analisis mtDNA dan STR seperti telah disebutkan dipenjelasan sebelumnya.

Metode penelitian ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu pengumpulan sampel larva dari 2 bagian tubuh jenazah, pencucian dan diseksi larva, ekstraksi dan amplifikasi DNA dari jaringan manusia dan tubuh larva, serta analisis STR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva yang dikumpulkan dari bagian tubuh jenazah merupakan instar III dengan ukuran dari 1.

Hasil identifikasi baik secara morfologi maupun molekuler menunjukkan bahwa larva tersebut merupakan larva serangga Aldrichina grahami. Profil STR yang diperoleh dari jaringan manusia cocok satu sama lain dengan yang diperoleh dari tubuh larva. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa analisis mtDNA dan STR merupakan bagian dari entomologi foresik molekuler yang dapat menganalisis PMI secara cepat dan akurat.

Selain DNA, terdapat materi genetik lain yang dapat dimanfaatkan ke depannya dalam bidang entomologi forensik, yaitu ekspresi gen pada level mRNA. DNA dijaga agar tetap stabil di dalam sel. Di dalam DNA terdapat sekuens coding maupun non coding. Studi ekspresi gen difokuskan kepada kuantifikasi ekspresi dari coding sekuens yang secara langsung menentukan fenotip termasuk morfologi makhluk hidup.

Berikut akan dibahas mengenai artikel studi ekspresi gen pada serangga terkait dengan entomologi forensik. Diantara beberapa jenis serangga yang paling sering dimanfaatkan dalam penentuan PMI adalah golongan Blow Flies Diptera: Calliphoridae.

Salah satu spesies Blow flies yang banyak ditemukan adalah Lucilia sericata, dimana waktu perkembangannya telah diketahui yaitu berkisar antara hari. Akan tetapi, pada kasus tertentu perkembangan tersebut dapat tertunda beberapa hari sehingga penentuan PMI berdasarkan serangga tersebut diragukan. Selain data morfologi, terdapat hal lain yang juga diregulasi selama masa perkembangan, yaitu ekspresi gen.

Selama ini penelitian di bidang perkembangan telah mengungkapkan beberapa gen yang aktif selama perkembangan serangga termasuk Lucilia serata.

Oleh sebab itu, peneliti pada artikel penelitian ini ingin mengetahui apakah data ekspresi gen dapat dimanfaatkan untuk menentukan Post Morterm Interval dengan lebih tepat.

Ekstraksi RNA dibagi menjadi 8 jam kelompok. Sebelumnya peneliti juga melakukan Dnase treatment untuk mendegradasi DNA genom agar tidak terukur, sehingga yang terukur benar-benar hanya mRNA saja. Peneliti menggunakan dua reference genes untuk menormalisasi ekspresi gen yang diamati yaitu Beta-Tubulin 56D dan ribosomal protein Hasil yang diperoleh peneliti menunjukkan hanya cs yang menunjukkan ekspresi dengan pola tetap, yaitu tidak terekspresi pada umur jam pertama, terkadang terekspresi pada umur jam, dan selalu terekspresi pada usia 6 jam hingga seterusnya dan ekspresinya semakin meningkat seriring bertambahnya umur L.

Untuk data ekspresi bcd dan sll setelah dinormalisasi dengan Beta-Tubulin 56D dan ribosomal protein 49menunjukkan bahwa ekspresi kedua gen ini semakin menurun. Setelah itu peneliti menghitung data pengukuran umur telur L. Dari hasil tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa data ekspresi gen dapat digunakan untuk menunjang penentuan Post Morterm Interval PMI. Peneliti juga menyarankan agar lebih banyak lagi ekspresi gen terkait perkembangan entomologi forensik dipelajari polanya sehingga dapat meningkatkan presisi perkiraan PMI dan memberikan data informatif tambahan.

Ritme circadian pada insekta berhubungan dengan perilaku hariannya, seperti: lokomotor, mencari makan pada saat dewasa, eclosion lepas dari pupa , dan oviposisi. Oviposisi nokturnal penting pada kasus entomology forensik saat kematian terjadi pada malam hari dan untuk mengalkulasi minimum Post Mortem Interval mPMI.

Namun, oviposisi nokturnal bisa berbeda-beda pada setiap wilayah geografis walau spesies yang terlibatnya sama. Calliphora vicina urban bluebottle blowfly dikenal sebagai lalat bangkai, panjangnya sekitar 10 mm dan berada pada area urban Australia. Blowflies dapat dengan cepat membentuk koloni pada mayat manusia dan merupakan insekta yang sangat berguna dalam memberikan estimasi minimum post-mortem interval mPMI. Studi tentang fenomena tersebut bertujuan untuk mendeterminasi apakah oviposisi pada C.

Spesimen C. Kemudian dilakukan studi perilaku pada sampel meliputi Pupariasi, Eclosion saat keluar dari pupa , pematangan ovarium, determinasi ada tidaknya diel-rhytm melalui berbagai ketegori. Hasil ini menunjukkan bahwa jika C.

EINHELL FA-G 2601 PDF

Entomologi Dasar

Arashitaur Forensi, Journal qdalah Legal and Forensic Sciences 1 1: Cyclorrhapha, Phoridae that omits sclerotization of the puparium Sumber asal lalat dewasa diperoleh dengan meletakkan bangkai tikus di Pusat Penyelidikan Universiti Malaya, Batu 16, Gombak. Master in Criminal Justice, University of Malaya. Descriptions of the larval instars of Chrysomya rufifacies Macquart Diptera: Preliminary studies of the influence of fluctuating temperatures on the development of various forensically relevant flies. In addition to that, users must provide a link to the license, indicate if changes are made and distribute using the same license as original if the original content has been remixed, transformed or built upon. Effect of temperature on Lucillia sericata Diptera: Scuttle fly Diptera; Phoridae as an important fauna in indoor animal decomposition in Malaysia. Ultramicroscopic stuructures of the terminal segments of a forensically important scuttle fly, Megaselia scalaris Loew Diptera: Educational Background — Forensic entomology cases in Thailand: Aplikasi dalam sains forensik. These license permits use, distribution and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited and initial publication in this journal.

RCM II JOHN MOUBRAY PDF

ENTOMOLOGI FORENSIK ADALAH PDF

Phylum Echinodermata binatang berkulit duri Phylum Artrhopoda binatang berbuku-buku PhylumChordata binatang bertulang belakang 4. Kepala head Bagian kepala merupakan organ yang sangat penting untuk pengenalan serangga atau untuk identifikasi dalam menentukan spesies serangga, adapun organ-organ yang terdapat di bagian kepala yaitu: mata, antena, dan mulut. Dada thorax Dada thorax serangga di bagi dalam tiga bagian, yaitu: prothorax, mesothorax, dan meta thorax. Contoh: Penyakit yang di sebabkan oleh golongan amoeba dan vektor penularnya adalah lalat rumah musca domestica. Penularan secara biologis.

Related Articles